Islam Nusantara | Islam Nusantara NU | Islam Nusantara pdf Islam Nusantara Itu Apa | Islam Nusantara NU Online | Islam Nusantara dan Komitmen Kebangsaaan | Islam Nusantara Menurut Muhammadiyah | Islam Nusantara gus Muwafiq | Islam Nusantara Menurut UAS | Islam Nusantara menurut para Ahli | Tradisi Islam Nusantara | Islam Nusantara menurut NU |

Islam Nusantara Mengkaji Syafaat Nabi Muhammad Rosuululloh Sholallohu Alaihi Wa Sallam untuk Ummat

Islam Nusantara Mengkaji Syafaat Rosuululloh Sholallohu Alaihi Wa Sallam untuk Ummat
Syafaat Rosuululloh Sholallohu Alaihi Wa Sallam untuk Ummat

Menurut arti bahasa kata “Syafaat” mepunyai pengertian pertolongan. Syafa’atan hasanatan, berarti suatu pertolongan yang membawa kepada kebagusan. Dan syafa’atan sayyiatan, adalah suatu pertolongan yang membawa kepada kemungkaran. Di dalam pembahasan di sini yang dimaksud adalah syafa’atan hasanatan.

Menurut arti istilah adalah memohonkan kebaikan dari atau oleh orang lain untuk orang lain.
الشفاعة سؤال الخير من الغير للغير
“Yang disebut syafa’at adalah memohonkan kebaikan dari atau oleh orang lain untuk orang lain”.[1]
الشفاعة هي السؤال في التجاوز عن الذنوب من الذي وقع الجناية في حقه[2]
Syafa’atadalah permintaan pengampunan beberapa dosa dari orang yang melakukan kesalahan”.

Atau mudahnya, mengusahakan kebaikan bagi orang lain. Atau memberikan jasa-jasa baik kepada orang lain tanpa mengharap upah atau imbalan jasa. Memberi jasa, baik diminta maupun tidak diminta.

Di dalam penggunaan istilah, pada umumnya sebutan “Syafa’at” dipakai untuk pertolongan yang khusus dari Kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam. Sedangkan pertolongan yang diberikan oleh selain Kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam umpamanya oleh para Wali yang lebih tua umurnya di sebut barokah atau doa restu, bantuan, dukungan atau jangkungan, sesungguhnya semua itu tidak lain adalah syafa’at juga namanya. Syafa’at dalam arti pertolongan.

Syafa’at Kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam itu dapat terjadi di dunia dan ahirat. Yang di dunia antara lain dan ini yang paling berharga dan tak ternilai dengan harta adalah iman dan islam di dada setiap muslim dan mu’min. Boleh dikatakan bahwa syafa’at, Islam tuntunan Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam adalah syafa’at Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam. Dan seperti kita sadari dari kenyataan bahwa tuntunan Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam tersebut disalurkan dan disampaikan kepada kita melalui proses yang panjang. Melalui para sahabat radliyalloohu Ta’ala ‘anhhu, kepada para Tabi’in kepada para Tabi’I Al-Tabi’I, para Ulama salaf, para Auliya’, para Sholihin, para Ulama Khalaf, para Kiai, para cendikiawaan, para Ustadz, para guru ahirnya sampai kepada kita. Berarti mereka-mereka itu adalah perantara antara kita dengan Junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam. Mereka itu adalah penyambung / penyalur syafa’at Rasul shallallohu ‘alaihi wasallam kepada para lapisan masarakat. Dapat kita fahami bahwa mereka dapat menjalankan fungsinya sebagai penyalur safa’at adalah juga dari safa’at Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam. Dan begitu seterusnya, sambung bersambung. Tanpa Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam mereka tidak dapat melakukan hal-hal seperti itu, dan kita pun tidak akan memiliki iman dan islam dan faham-faham keagamaan seperti ini.

Begitu gambaran luasnya safa’at Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam di dunia ini, dan begitu penting dan berharga bagi kita para ummat sehingga kita tidak mampu menghitung-hitung betapa besarnya nilai safa’at Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam itu. Suatu pertolongan yang sangat kita butuhkan. Kita butuhkan untuk membawa diri kita kepada kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirot. Kita butuhkan untuk membebaskan dan menyelamatkan diri kita dari bahaya kejahatan dan kekejian yang akan membawa kepada kesengsaraan dan kehancuran dunia akhirat.

Adapun safa’at kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam di akhirot kelak, yang disebut "SAFA’ATUL ’UDHMA” adalah pertolongan agung yang sangat dibutuhkan oleh seluruh ummat manusia di padang mahsyar kelak di akhirat. Di padang mahsyar itu nanti, seluruh ummat manusia dari zaman nenek moyang kita, Kanjeng Nabi Adam’laihis – sholatuwassalam sampai manusia yang terakhir menemui hari Qiyamah dikumpulkan semua. Terjadilah suatu peristiwa yang maha dahsyat, suatu tragedi kebingungan ummat manusia yang memuncak dan belum pernah dialami sebelumnya. Di bawah pembakaran terik panas sinar matahari yang pada saat itu dikebawahkan oleh Alloh hanya tinggal setinggi galah, tiap-tiap manusia mengalami problem-problemnya sendiri-sendiri sebagai akibat tindak lakunya ketika hidup di dunia.

Di sebut  “Yaumul-hasyri” atau hari berkonfrontasi saling berhadap-hadapan satu sama lain. Baik bapak baik ibu, baik anak baik saudara dan sebagainya saling tuntut-menuntut, saling tuduh-menuduh satu sama lain. Satu sama lain melarikan diri ketakutan takut terkena tuntutan.          

Pertolongan mutlak milik Alloh, dan kehendak Alloh mutlak tidak ada yang mencampurinya, termasuk Alloh berkehendak memberikan hak syafa’at bagi makhluknya, misalnya ; kepada Rosul utusan-NYA, syafa’at Rosul ini adalah dengan izin Alloh dan tidak mengurangi milik Alloh yang mutlak seperti firman Alloh SWT.
قل لله الشفاعة جميعا (39 الزمر :44)
Katakanlah ; “Hanya kepunyaan Alloh Syafa’at itu semuanya  (39- Az-Zumar : 44 )

Ada sebagian orang berpendapat bahwa dengan ayat tersebut selain Alloh tidak dapat memberi syafa’at,  sehingga mohon syafa’at kepada Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam sama artinya dengan syirik dan sesat.

Dengan menggunakan ayat tersebut, sebagai dasar bagi pendapatnya bukan pada tempatnya, ada dua alasan untuk menolak pendapat tersebut   :
1.  Tidak ada satu ayat pun dan hadits yang melarang permohonan syafa’at kepada Rosululloh  shollallohu 'alaihi wa sallam .
2.    Ayat di atas tidak menunjukan larangan mohon syafa’at, namun searti dengan ayat–ayat lain yang menjelasakan kemutlakan kekuasaan Alloh sebagai Penguasa Tunggal yang tidak tersaingi oleh suatu apapun. Hal ini mempunyai pengertian bahwa Alloh dapat menganugrahkan apa dan siapa saja sesuai kehendaknya,

Firman Alloh dalam Al- Qur’an yang menerangkan tentang anugerah  Alloh memberikan syafa’at kepada hamba-Nya seperti di bawah ini.
ولايملك الذين الشفاعة الامن شهد بالحق وهم يعلمون (43- الزخروف :86)
 “(Tuhan-tuhan) yang mereka sembah, selain dari padanya, tiada mempunyai syafa’at (pertolongan), kecuali orang-orang yang mengaku dengan kebenaran, sedang mereka mengetahui”. (QS. Al-Zukhruf: 86)
يومئذ لاتنفع الشفاعة الامن اذن له الرحمن ورضي له قولا  (20-  طه :109 )
“Pada hari itu tiada bermanfaat pertolongan, kecuali orang yang telah diizinkan oleh Yang Maha Pengasih dan disukai perkataannya”.

Syafa’at bukan lain adalah memohonkan kebaikan dari orang lain untuk orang lain. Dan ayat tersebut menunjukkan bahwa ada sebagian mahluk Allah  yang dianugerahi dapat memberi syafaat kepada yang lainnya. Kalau toh ada ayat-ayat yang tidak mebenarkan adanya syafa’at, seperti : QS. Al-Baqqrqh: 48, 123 dan QS. Al-Muddatsir: 48, semua ayat ini berhubungan dengan orang-orang musyrik.

Mohon syafa’at kepada Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berarti seseorang mohon supaya Beliau Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam  sudi memberikan pertolongan untuk  memohonkan kepada Alloh Subhaanahu wa ta'aala agar Alloh berkenan mengabulkan permohonan tersebut.

Tentang siapa dan apa yang dapat memberi syafa’at dengan izin Alloh telah dijelaskan dalam beberapa hadits, antara lain :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يشفع يوم القيامة  ثلاثة , الأنبياء ,ثم العلماءثم الشهداء (روه ابن ماجه عن عثمان رضى الله عنه )
Rosululloh  shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda : “Yang dapat memberi syafa’at besuk pada Yaumul Qiyamah ada tiga ; yaitu  para Anbiya’ kemudian para Ulama’ kemudian para Syuhada’ (HR. Ibnu Majah dari Utsman RA.) 
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :يشفع الشهيد فى سبعين من اهل بيته (روه ابو دوود عن ابى الدرداء)
Rosululloh  shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda  “Seorang mati syahid akan memberi syafa’at pada 70 orang dari Ahli baitnya”  (HR. Abu Dawud dari Abi Al-Darda’ )
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : انا سيد ولد أدم ولا فخر وانااول من تنسق  عنه الارض وانااول شافع واول مشفع , بيدى لواء الحمد تحته أدم فمن دونه  (رواه الترميذ وابن ماجه عن ابي سعيد الحذري والحكم عن جابر باسناد صحيح )
Rosululloh  shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda  : “Aku adalah sayyid dari cucu anak Adam dan tidak membanggakan diri dan Aku adalah orang yang pertama dibangunkan dari kubur, dan Aku adalah orang pertama yang memberikan syafaa’t dan orang pertama yang diterima syafa’atnya, di tangan-Ku-lah bendera puji dan di bawah bendara itu bernaung Nabi Adam kemudian orang-orang lainnya. (HR. At-Tirmidzi dan Ibu Majah dari Abi said Al- Hudriyyi dan Al-Hakim dari Jabir RA)
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من زار قبرى وجبت له شفاعتى (رواه ابن عدي والبيهقىعن ابن عمر)
“Rosululloh  shollallohu 'alaihi wa sallam  bersabda  : barang siapa  ziarah ke kuburku maka wajib atasnya syafa’atku”.(HR.  Ibnu Adi dan Baihaqidari Ibnu Umar ).
التشفع بالنبي صلى الله عليه وسلم في كل مكان نافع فلم يقبل الاالوصول الى النبي صلى الله عليه وسلم
 (شـواهد الحق : 203)
“Tasyaffu’an kepada Kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, di tempat manapun adalah manfa’at, dan pasti diterima oleh Kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam”. (Syawahudu Al-Haq : 203)
وانه صلى الله عليه وسلم مقبول الشفاعة عند الله في الدنيا والاخرة ويتوسلون به اليه تعالى ليبـلغهم مناهم في دنياهم وأخراهم فقد شاركوا في هذا المعنى اعلم العلماء (شـواهد الحق : 45)
“Dan sesungguhnya Kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam itu pasti makbul diterima syafa’atnya di sisi Allah baik di dunia maupun di akhirat. Dan orang-orang Islam sama berwasilah kepada Kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam dalam memohon kepada Allah Ta’ala agar Kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam berkenan menyampaikan hajat keinginan mereka di dunia dan akhirat. Maka para Ulama yang Alim-alim telah sepakat di dalam pengertian tersebut”.

Memohon syafa’at kepada Rosululloh  pada masa hidup-NYA atau sepeninggal-NYA sama saja dalam hukum Islam yang di bawah oleh Nabi  Muhammad ini, sehubungan dengan orang yang mati sabilillah tidak dapat disamakan dengan umumnya manusia tentang bagaimana keadaan setelah pindah ke alam barzah Alloh Subhaanahu wa ta'aala  menjelaskan dalam Firman-Nya : PPK/158
ولاتقولوا لمن يقتل في سبيل الله اموات بل احياء ولكن لاتشعرون    (البقرة  : 154)
“Dan janganlah kalian berkata: Bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan sebenarnya mereka itu hidup di alam lain, tetapi kalian tidak menyadarinya” (QS. Surat Al Baqoroh 154).
ولا تحسبن الذين قتلوا فى سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون (ال عمران 169)
“dan janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka itu (sebenarnya) hidup di sisi Tuhannya dan mereka memperoleh rizqi (kenikmatan besar) (QS. Ali Imrom 169)
Berdasarkan ayat di atas orang gugur di jalan agama Alloh tetap hidup di sisi Alloh apa lagi para Ambiya’ dan Rosul serta orang-orang sholih seperti para Shahabat Nabi.

Apa gunanya Agama menganjurkan kepada kita untuk mengucapakan salam kepada yang telah meninggal, kalau kita tetap berpendapat bahwa mereka mati seperti manusia pada umumnya, bukankah hal ini betentangan dengan ayat tersebut ? dan bagaimana hukumnya bila seseorang sudah tidak iman kepada ayat Al-Qur’an  ? Na ‘uudu billaahi min Dzalik.

Untuk lebih jelasnya Rosululloh  shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda  : 
حياتى خير لكم ومماتىخيرلكم, واماحياتى فاسن لكم السنن واشرع لكم الشرائع, واما مماتى  فان اعمالكم تعرض فما رأ يت  منها حسناحمدت الله عليه وما رأيت سيئا استغفرت الله لكم  (رواه البزارعن ابن مسعود باسناد صحيح)
Hidup-Ku adalah kebaikan bagi kamu sekalian dan kematian-Ku-pun kebaikan bagi kamu serkalian. Adapun Hidup-KU maka AKU memberikan tuntunan berbagai sunnah kepada kamu sekalian dan mengajarkan berbagai macam Syari’at kepada kamu sekalian. Sedangkan kematian-KU (yang juga kebaikan bagi kamui sekalian), oleh karena sesungguhnya amal-amal kamu sekalian diperlihatkan kepada-Ku. Maka apa saja yang aku lihat dari padanya kebaikan, AKU memuji kepada Alloh atas kebaikan itu, dan apa AKU melihatnya keburukan, maka AKU memohonkan ampunan kepada Alloh kepada kamu sekalian (HR. Al-Bazzar dari Abdulloh bin Mas’ud derngan sanad yang shohih).
ما من احديسلم علي الارد الله على روحى حتى اردعليه السلام (رواه احمد وابو دوود)
Setiap salam yang disampaikan kepada-Ku oleh seseorang, Alloh akan menyampaikan kepada Roh-Ku agar Aku menjawab salam itu. (HR. Ahmad dan Abu Dawud )

Dalam hal ini sebagian Ulama berpendapat yang berhubungan dengan kondisi Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam setelah wafat tetap seperti beliau shallallohu ‘alaihi wasallam masih hidup dan status orang yang berpendapat tentang tidak ada manfa’atnya setelah Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam meninggal dunia adalah pendapat yang sesat dan menyesatkan.
فمن اعتقد ان النبي صلى الله عليه وسلم لانفع به بعد الموت بل هو كأحد الناس فهو الضل المضل
(تفسـير الصاوي ج  1: 161)
 “Maka barang siapa beri’tikad, bahwa Kanjeng Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam tiada manfa’at sesudah wafatnya, bahkan beliau shallallohu ‘alaihi wasallam berbeda seperti perorangan manusia biasa, maka orang seperti itu adalah sesat dan menyesatkan”.
 (Tafsir Al-Shawi juz 1, hal. 161)
نقل السيد احمد دخلا عن ابي الموا هب الشا ذلي رضي الله عنه ا نه كان يقول : لله عباد يتولي تربيتهم النبي صلىالله عليه وسلم بنفسه من غير واسط بكثرة صلاتهم عليه صلىلله عليه وسلم ( سعا دة الدارين:551)
Sayyid Ahmad Dahlan menukil pendapat Abi Mawahib Asy-syadzali rodiyalloohu’anhu sesungguhnya ia berkata : “Alloh memiliki hamba-hamba yang bimbinganya dikuasakan kepada Nabi Muhammad shollallohu alihi wasallam tanpa perantara sebab banyaknya bacaan Sholawat mereka pada Nabi shollallohu alihi wasallam”. (Sa’daatu Al-Daroini : 511)[3]  



[1] Materi Up Gradin A, PSW Pusat, Kediri hal. 148
[2] Kitabu Al-Ta’riifaat, Ali Bin Muhammad Al-Jarjaniy, Sangkapurah, Jiddah, hal. 127, t. thn
[3] Risalah, oleh KH Ihsan Mahin.

Islam di Nusantara ; Tangis dalam Munajat Kepada Alloh Shubhanahu Wa Taala

Islam di Nusantara ; Tangis dalam Munajat Kepada Alloh Shubhanahu Wa Taala
Islam di Nusantara ; Tangis dalam Munajat Kepada Alloh Shubhanahu Wa Taala
Tangis pada saat munajat termasuk sebagian para Penceramah merupakah hal-hal yang dipermasalahkan dalam masyarakat umum. Sebenarnya tangis itu sendiri termasuk sunnah dan kebiasaan para Rosul, para Nabi dan para Shohabat dan orang yang dekat pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Mari kita perhatikan ayat ayat Al-Qur’an, Al-Hadits  dan Aqwalul `ulama` tentang tangis karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala :

1.    Ayat ayat Al-Qur an :
a.    Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang menerangkan tangisnya para Rasul dan Nabi :
اولئــك الذين أنعــم  الله عليهــم من النبـيـين  من ذريـــة   ادم ومـمــن حملنــا مــع نــوح   ومن  ذريــة   ابـــراهيــم  واســرائــيــل  وممـن  هـدينــا  واجتبــينــا اذا  تـتــلى عليهــم  ايـــت  الــرحمـن  خــروا ســجـــدا وبكـيـا  (19- مريم  : 58 )
“Mereka itu adalah orang-orang yang diberi ni`mat oleh Alloh dari para nabi dari keturunan Adam dan orang orang yang Kami muat (dalam perahu) bersama Nabi Nuh, dan dari keturunan Nabi Ibrohim dan Isroil, dari orang-orang yang Kami beri petunjuk. Dan Kami pilih, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh Maha Pengasih, mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis".
(QS 19- Maryam : 58)

b.    Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala tentang menangisnya para sahabat.
ويخـرون  لـلأ ذقـان  يبكــون  ويــزيــدهــم  خشـوعـا  (17- الاسرء : 109 )
“Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis dan mereka bertambah khusu” ( QS. 17 Al-Isro: 109 )

Yang dimaksud “mereka” ialah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (dalam ayat sebelumnya / 107)

c.    Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala berisi kecaman bagi orang yang tidak menangis :
افمن هذا الحـديث  تعــجبــون   وتـضـحـكــون   ولا تبـكــون . وانتـم سـامـدون . (53- النجم : 59-61)
“Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini dan kamu menertawakan dan tidak menangis, sedangkan kamu melengahkan” (QS. 53- An Najm  59-61)

2.   Al -Hadits

a.    Sabda Nabi Shollallohu `alaihi wasallam :
لا يلـج  النار رجل بكى من خشية   الله حتى يـعــود اللــبن فى الضـرع  (روه الترمذى عن ابى هريرة )
“Tidak akan masuk neraka seorang laki laki (juga perempuan) yang menangis karena takut kepada Alloh sehingga ada air susu masuk kembali pada kantongnya”. (HR. At Tirmidzi dari Abu Huroirota / shohih).

b.    Sabda Nabi Shollallohu `alaihi wasallam
أملك عليك لسانـك وليسـعك  بيـتـك  وابـك على خطيئتـك (روه الترمذى عن عقبة بن عامر- حسن)
“Kuasailah (jagalah) lesanmu, luaskan rumahmu dan tangisilah kesalahanmu” (HR At-Turmudzi  dari Uqbah bin Amir / Hasan )

c.    Sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam
عينان لا تمسهمـا النار : عــين بكــت  من خشـية  الله  وعــين بـاتـت تحــرس فى سبيل الله  ( رواه الترمذى عن ابن عبس/ صحيح )
“Dua mata yang tidak terkena api neraka : mata yang menangis karena takut kepada Alloh dan mata semalaman tidak tidur karena berjaga dalam perjuangan Alloh“ (HR At-Turmudzi dari Ibnu Abas / Shohih ).

d.    Sabda Nabi Shollallohu `alaihi wasallam
يا أيهـا الناس أبكــو ا فـان لم تبـكـــوا فتبـاكــوا   (رواه ابو دود)
“Hai manusia, menangislah, apabila kamu tidak bisa menangis berusahalah bisa menangis” (HR  Abu Dawud) ( dalam kitab Jami`ul ushul halaman 263 –264)

3.   Aqwalul Ulama
a.    Kata Syekh Dhiya-uddin Ahmad Musthofa dalam kitabnya Jami`ul Ushul hal. 264 :
واعلم  ان البكـاء من  خشية  الله من  ادل  الأدلــة على الخــوف  من الله  والمـيـل  الى الأخـرة .  والـجالب للبكـاء شيئان :  الخـوف  من الله  والـنــدم  على ما سلـف  من التـفــريـط  والتـقصـير . واعظـم  سبه المحبة
“Katakanlah bahwa menangis karena takut Alloh suatu pertanda yang kuat menunjukkan takutnya kepada Alloh dan condongnya terhadap kehidupan akhirot. Dan yang mendorong timbulnya tangis ada dua :  takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan menyesali atas perbuatan yang berlebihan dan penyalahgunaan yang telah dilakukan. Namun sebab yang paling kuat menimbulkan tangis adalah mahabbah (cinta) kepada Alloh wa Rosuulihi Shollallohu `alaihi wasallam”.

b. Kata Syekh Fudheil bin Iyadl, Rodliyalloohu Anhu ;
ويحـكم  ليس هذا زمـان حــديث ,  ا نما هذا زمــان بــكـاء  وتضـرع   واستكـانة  ودعـاء كــدعاء الغــريــــق  (احياء جزء 3 /183)
“Celaka kamu ! Saat ini bukan saatnya berbicara, akan tetapi saat ini adalah saatnya menangis, berdepe-depe (menunduk, mencari ketenangan dan berdoa seperti do’anya orang yang tenggelam ( dalam air ) ( Ihya` III/ 183 )”.

c.Kata Syekh Ishaq At-Tujibi RA :
كان اصحـاب النبى صلى الله عليه وسلم بعده لا يذكرونه الاخشعـوا واقشعـرت جلـودهم وبكـوا, وكذلك كـثير من التابعـين . ( الشفاء:20)

“Para Shohabat Nabi Shollallohu `alaihi wasallam setelah wafat Beliau tiada menyebut / mengingat beliau melainkan mereka berkhusu', berkerut (gemetar) kulitnya dan menangis. Begitu juga sebagian besar para tabi'in” (As- Syifa` hal 20)

a.    Dalam kitab “Al Majalisus Saniyah” dalam Majelis ke –28, ada sebuah Hadits :
اذا اشتبكـت  الاصـوات  واحتلـفت  اللغـات  وأشار الـخلـق  بالأكـف  الى رب  السمـوات   واشتـدالبكاء وعلا  النــداء  وظـهــر الحنـين  واشتـد الأنــيــن  وانمـــهـلـت   العيون بأبـلــغ  العــبرات  وأخـلــصــوا  التــوبـة  من سـوء الــمويقـات  اطلــع  الله جل جلا له  فيقــول : ملائـكـتى  انى  اشوق  الى  دعائـهـم  من الــظــمآن  الى الماء البارد.
“Apabila suara-suara sudah menjadi tidak jelas, ucapan-ucapan berbeda beda, orang-orang mengangkat tangannya kepada penguasa langit, suara tangis telah menjadi-jadi, seruan (nida) telah menjulang tinggi, ratapan dan rintihan telah membahana, air mata telah bercucuran karena mendalamnya kesan, dan mereka bertaubat dengan sepenuh dari perbuatan maksiat yang menghancurkan amal, maka (saat itulah) Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberitahu kepada Malaikat seraya berfirman : “Hai malaikat-Ku sesungguhnya Aku lebih merindukan (menantikan) do'a-do'a mereka dari pada orang yang sangat haus menantikan air dingin”.

b.    Kisah tangis di muka Umum
Benar-benar telah terjadi pada zaman dahulu dalam mejelis pengajian, lebih dari satu orang meninggal dunia karena nasehat seorang ulama’ yang memberikan ceramah, sebagaimana telah diceritakan oleh kebanyakan Ulama’ Salaf R.a. Salah seorang dari mereka (jamaahnya pengajian majelis ulama salaf) menghadiri mejelis (pengajian) Dzun-Nun Al-Mishri R.a. di sebuah lapangan di Mesir dan bilangan jumlah Jamaahnya sekitar tujuh puluh ribu orang.

Dzun Nun Al-Mishri Ra. menerangkan tentang mahabbah (cinta) kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, hal-hal yang berhubungan dengan orang-orang yang mencintai-Nya, dan sifat-sifat mereka. Pada saat itu, ada sebelas orang yang meninggal dunia sebab hati mereka merasa terbakar oleh ceramah Dzun Nun dan riuh manusia dengan suara pekikan dan tangisan. Banyak orang yang jatuh dalam keadaan tidak ingat dan tidak sadar pada hari itu. Salah seorang muridnya berkata, wahai Abul Faidl ! “Tuan telah membakar hati orang banyak dengan kecintaan kepada Alloh.”  Maka, Dzun Nun mengaduh dengan sangat dan merobek bajunya menjadi dua bagian, seraya berkata, “aduh”, orang-orang yang benar mahabbah kepada Alloh adalah orang-orang yang telah menebus jaminan mereka, mata mereka telah mencucurkan air matanya. Mereka telah setuju tidak akan tidur, sehingga mereka meninggalkan tidurnya. Malam mereka adalah malam yang panjang, namun tidur mereka hanya sebentar kekuatan mereka tidak lenyap, kesedihan tetap ada, perkara-perkara mereka sulit, air mata mereka mengalir, mata mereka tetap menangis, pelupuk mata mereka terluka. Sungguh-sungguh zaman telah memusuhi mereka. Keluarga dan tetangga mereka berbuat kasar kepada mereka. Sungguh hati mereka telah terbakar oleh kecintaan kepada Alloh, minuman mereka bersih dari kotoran. Tidak diragukan lagi, sesungghnya mereka telah diberi minum oleh Tuhan mereka dan telah mencapai harapanya.

Mari kita awali munajat denganbacaan Al fatihah  3 kali  dan memperbanyak pendekatan dan sadar kepada Alloh Wa Rosuulihi Sholalloohu ‘alaiihi Wa Sallam, dengan harapan munajat yang kita lakukan benar2 di ridhoi Alloh Shubhanahu Wa Ta’ala.
وباالله التوفيق والهداية ومن رسول الله صلىالله عليه وسلم الشفاعة
والتربية ومن غوث هذا الزمان النظرة والبركة